Stevia untuk Diabetes – Aman atau Berbahaya

,
Sejak beberapa dekade terakhir, pilihan pemanis yang aman bagi penderita diabetes semakin mudah dicari. Salah satunya adalah gula stevia untuk diabetes.
Stevia merupakan pemanis yang berasal dari ekstrak tanaman alami Stevia rebaudiana dan populer di tengah maraknya tren hidup sehat di Indonesia.
Diabetes adalah kondisi di mana kadar gula (glukosa) dalam darah terlalu tinggi dan tidak terkontrol. Tubuh memerlukan cara untuk mengendalikan glukosa, yakni dengan produksi hormon insulin di pankreas. Insulin memproses glukosa dari makanan dan mengubahnya menjadi energi.
Pada penderita diabetes, proses ini bermasalah karena beberapa sebab, misalnya tubuh tidak memproduksi insulin sama sekali, insulin yang dihasilkan tidak cukup, atau tubuh tidak bisa menggunakan insulin dengan baik (resistensi insulin).
Setidaknya ada beberapa jenis diabetes, simak penjelasan ringkasnya sebagai berikut:
Tubuh tidak bisa memproduksi insulin sama sekali karena sistem kekebalan menyerang bagian pankreas. Hal ini berkaitan dengan autoimun dan biasanya muncul sejak usia anak-anak atau remaja. Penderita diabetes tipe 1 wajib suntik insulin seumur hidup.
Tubuh masih memproduksi insulin, tetapi tidak cukup efektif (resistensi insulin) atau tidak cukup banyak. Diabetes tipe 2 ini adalah jenis paling umum (sekitar 90% kasus). Sering terkait gaya hidup yang tidak seimbang, seperti kurangnya aktivitas fisik, makan berlebih, dan obesitas.
Diabetes Tipe 3c adalah jenis diabetes yang disebabkan oleh kerusakan fisik pada organ pankreas. Ketika pankreas mengalami kerusakan akibat penyakit atau trauma, kemampuannya untuk memproduksi insulin terganggu, sehingga kadar gula darah naik.
Diabetes ini muncul saat kehamilan karena hormon plasenta mengganggu kerja insulin. Kondisi ini umumnya hilang setelah melahirkan. Namun demikian, wanita yang pernah mengalaminya perlu waspada dengan risiko lebih tinggi terkena diabetes tipe 2 di kemudian hari.
Diabetes tipe 5 berkaitan dengan malnutrisi kronis. Terjadi pada individu muda yang kurus dengan riwayat malnutrisi kronis sejak masa kanak-kanak atau remaja.
Diabetes ini masuk klasifikasi terbaru yang secara resmi diakui oleh Federasi Diabetes Internasional (IDF) pada April 2025, yang sebelumnya dikenal sebagai Malnutrition-Related Diabetes Mellitus (MRDM).
Diabetes tipe 5 lebih sering terjadi di daerah yang penduduknya rawan gizi buruk.
Angka penderita diabetes pada generasi muda meningkat tajam akibat pola makan buruk seperti konsumsi jajanan cepat saji, kue manis, minuman boba, dan kopi kekinian.
Tak hanya soal menu makanan yang tidak seimbang, gaya hidup sedenter seperti malas bergerak, terlalu banyak scrolling, dan jarang aktivitas fisik ini pun menjadi problem yang marak pada orang dewasa hingga anak-anak.
Kondisi ini mengancam masa depan anak muda karena paparan gula tinggi secara terus-menerus dapat menyebabkan komplikasi serius seperti penyakit jantung, diabetes, dan gagal ginjal.
Akibatnya, penyakit ini bisa menyerang seseorang di usia muda, mengancam golongan usia produktif dengan stres, tekanan psikologis, dan beban ekonomi yang signifikan.
Melansir dari DetikHealth (2023), Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyoroti tingginya konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) di kalangan anak dan remaja di Indonesia, yang berkontribusi pada risiko obesitas dan diabetes.
19,47 juta
Perkiraan jumlah penderita diabetes di Indonesia berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) yang dicantumkan dalam artikel.
Survei YLKI di 10 kota dengan 800 responden menunjukkan bahwa 25,9% anak dan remaja di bawah 17 tahun mengonsumsi MBDK setiap hari, dengan 38% membeli minuman tersebut di warung terdekat.
Permasalahan inilah yang melandasi pentingnya upaya pencegahan agar jumlah penderita diabetes tidak semakin bertambah.
Sementara bagi yang telanjur mengidap diabetes atau dalam fase pradiabetes, perlu solusi yang memungkinkan agar gula darah terkontrol sehingga tidak menyebabkan komplikasi serius pada organ tubuh vital.
Salah satu solusi yang bisa membantu mengendalikan gula darah agar stabil adalah stevia.
Pernahkah Anda penasaran mengapa stevia bisa terasa manis tetapi hampir tidak mengandung kalori? Berbeda dengan gula pasir yang langsung diserap tubuh, stevia memiliki jalur khusus saat melewati sistem pencernaan Anda.
Ketika Anda mengonsumsinya, zat asam dan enzim pencernaan di lambung maupun usus halus tidak memecah stevia. Alhasil, pemanis alami ini hanya lewat begitu saja tanpa diserap oleh tubuh.
Setelah keluar dari usus halus, stevia akan tiba di usus besar. Mikrobiota yang hidup di dalam usus akan memproses stevia dan mulai mengubah komponen manisnya menjadi molekul dasar yang bernama steviol.
Dari usus besar, molekul steviol tersebut diserap ke dalam aliran darah dan dibawa menuju organ hati (liver). Di dalam hati, senyawa ini tidak diubah menjadi energi, tetapi disaring. Selain itu terjadi pula proses biokimia agar sisa-sisa steviol glukuronida bisa dikeluarkan dari tubuh dan tidak menumpuk di hati.
Sisa steviol glukuronida kemudian dikirim menuju ginjal untuk dibuang secara alami melalui urine.
Intinya:
Stevia melewati tubuh tanpa pernah diubah menjadi energi atau glukosa seperti gula biasa, sehingga dapat memberikan rasa manis dengan sedikit atau tanpa kalori.
Simak video penjelasan tentang keamanan stevia dan mekanismenya dalam tubuh oleh dokter spesialis penyakit dalam Dr. Diana Novitasari Sp. PD. KEMD Finasim Semarang Dot Care.
Konsumsi gula berlebih menjadi salah satu pemicu utama masalah kesehatan global. WHO merekomendasikan agar gula tambahan dalam makanan dan minuman tidak lebih 10% dari total asupan energi harian, dengan target ideal di bawah 5%.
Namun, kenyataannya, banyak orang masih menyukai rasa manis dan kesulitan mengurangi gula. Di sinilah stevia dapat berperan sebagai alternatif praktis.
Sebagai pemanis non-nutritive, stevia hampir tidak mengandung kalori sehingga bisa menggantikan gula tanpa menambah beban energi.
Sebuah riset klinis selama 90 hari pada subjek overweight menemukan bahwa mengganti gula meja dengan pemanis berbasis stevia berhasil menciptakan defisit kalori sekitar 90 kcal per hari (atau setara 2.700 kcal per bulan).
Defisit ini terjadi karena stevia memberikan rasa manis yang kuat, tetapi tubuh tidak memetabolisme steviol glikosida menjadi glukosa.
Penelitian menunjukkan bahwa mengganti sukrosa dengan stevia dalam minuman berhasil menurunkan kadar glukosa dan insulin pasca-makan secara signifikan dibandingkan dengan gula tebu biasa.
Hal itu berarti stevia bukan sekadar pengganti rasa manis, melainkan alat yang membantu tubuh menghindari lonjakan gula darah akibat konsumsi gula berlebih.
BPOM menetapkan batas asupan harian yang dapat diterima (ADI) untuk steviol glikosida sebesar 4 mg per kilogram berat badan per hari.
Studi exposure assessment memperkirakan konsumen dengan asupan sangat tinggi, terutama anak-anak, berpotensi melebihi ADI jika stevia dikonsumsi pada level maksimum dalam banyak kategori makanan sekaligus.
Oleh karena itu, penting untuk tidak berlebihan, selalu membaca label kemasan, dan memastikan produk yang digunakan benar-benar mengandung steviol glikosida tanpa bahan pengisi seperti maltodekstrin atau dekstrosa yang mengandung karbohidrat.
Hal ini menjadi jalan yang realistis agar tetap bisa menikmati rasa manis sehari-hari secara bertahap, sambil mengurangi ketergantungan pada gula tambahan.
Berdasarkan tinjauan dan riset klinis di tahun 2024 yang dicantumkan dalam artikel, stevia tidak menaikkan gula darah dan justru membantu dalam pengendalian kadar gula darah secara konsisten sesuai observasi yang dilakukan dalam waktu 1–4 bulan.
Hal ini tentunya merupakan kabar gembira, karena stevia memungkinkan untuk menjadi alternatif pemanis yang aman bagi penderita diabetes karena tidak memicu lonjakan glukosa darah seperti gula tebu (sukrosa).
Steviosida berpotensi memiliki efek hipoglikemik ringan (menurunkan gula darah) pada beberapa individu.
Jika Anda sedang mengonsumsi obat diabetes dari dokter atau insulin, maka menggunakannya bersama stevia dalam dosis besar secara teori bisa memicu gula darah terlalu rendah (hipoglikemia).
Risiko ini ada walaupun kecil, jadi tetap pantau respons tubuh dan konsultasikan dengan dokter.
Banyak produk stevia di pasaran, terutama yang berbentuk bubuk atau tablet, ternyata dicampur dengan maltodekstrin atau dekstrosa sebagai bahan pengisi agar volumenya bertambah.
Bahan-bahan ini mengandung karbohidrat dan kalori yang bisa langsung menaikkan gula darah. Manfaat baik stevia pun kurang maksimal.
Batas asupan harian yang dapat diterima (ADI) untuk steviol glikosida sebesar 4 mg per kg berat badan.
Meski dosis ini sangat sulit tercapai hanya dari memaniskan minuman sehari-hari, konsumsi berlebihan melalui banyak produk olahan sekaligus, seperti minuman, kue, permen, puding, dan donat, bisa membuat akumulasi mendekati atau melebihi batas.
Anak-anak yang tubuhnya lebih kecil berisiko lebih tinggi melebihi ADI jika banyak mengonsumsi makanan olahan yang mengandung stevia.
Meski stevia murni telah disetujui aman oleh FDA dan EFSA untuk umum, sebagian ahli menyarankan agar ibu hamil dan menyusui menggunakan stevia sekadarnya dan mengatur takarannya.
Bahkan akan lebih baik lagi jika memilih pemanis lain yang alami, seperti buah segar.
Bagi penderita diabetes gestasional, konsultasi dengan dokter kandungan tetap menjadi langkah terbaik sebelum mengonsumsi pemanis apa pun secara rutin.
Bagi penderita diabetes, kekhawatiran utama saat mengonsumsi pemanis adalah dampaknya terhadap glukosa darah.
Stevia disebut bersifat antihiperglikemik, yang tidak menaikkan gula darah setelah dikonsumsi. Berbeda dengan gula biasa yang langsung diserap dan memicu lonjakan insulin, senyawa aktif dalam stevia tidak dipecah menjadi glukosa oleh sistem pencernaan.
Sebuah penelitian di tahun 2020 melibatkan 34 pasien diabetes.
Selama delapan minggu, satu grup mengonsumsi teh manis dengan ekstrak stevia 2%, sementara grup lain menggunakan sukralosa.
Hasilnya, tidak ada perbedaan signifikan pada gula darah puasa, HbA1c, insulin, maupun profil lipid antara kedua grup.
Artinya, stevia aman dikonsumsi sebagai alternatif pemanis tanpa mengganggu kontrol glikemik.
Lebih jauh, studi di tahun 2010 menemukan bahwa mengonsumsi minuman dengan stevia sebelum makan justru mampu menurunkan kadar glukosa dan insulin pasca-makan secara signifikan dibandingkan dengan sukrosa.
WHO telah mengeluarkan panduan terkait penggunaan pemanis non-gula (stevia termasuk di dalamnya). Berikut rangkuman pesan kuncinya yang relevan bagi penderita diabetes:
WHO menyatakan bahwa mengandalkan pemanis non-gula (termasuk stevia) sebagai satu-satunya cara untuk menurunkan berat badan atau mencegah obesitas tidak disarankan.
Lebih penting untuk fokus pada pola makan seimbang seperti serat alami sayur, buah, biji-bijian utuh dan aktivitas fisik teratur. Bukan cuma mengganti gula dengan pemanis alternatif.
Pemanis ini bisa membantu mengurangi asupan gula tambahan, tapi bukan pengganti perubahan kebiasaan makan secara menyeluruh.
Setiap orang punya kondisi kesehatan dan kebutuhan nutrisi yang berbeda. WHO menekankan perlunya berdiskusi dengan dokter atau ahli gizi untuk menyusun strategi diet yang sesuai dengan kondisi individu.
Meski pemanis non-gula tidak mengandung gula, bukan berarti bisa dikonsumsi tanpa batas atau dianggap sepenuhnya bebas risiko. Penggunaan yang bijak dan terukur tetap diperlukan.
Selalu baca label kemasan. Pastikan produk yang digunakan benar-benar mengandung steviol glikosida murni.
Hindari produk yang dicampur dengan bahan pengisi seperti maltodekstrin atau dekstrosa, karena bahan tambahan tersebut bisa mengandung karbohidrat dan kalori yang justru membatalkan manfaat stevia.
Batas asupan harian yang dapat diterima (ADI) untuk steviol glikosida adalah 4 mg per kilogram berat badan per hari.
Meski dosis untuk secangkir minum biasanya jauh di bawah batas ini, konsumen dengan asupan sangat tinggi, terutama anak-anak, berpotensi melebihi ADI jika stevia dikonsumsi pada level maksimum dalam banyak kategori makanan sekaligus.
Gunakan secukupnya.
Seperti yang ditunjukkan studi di tahun 2023, penggantian gula dengan stevia paling efektif ketika dikombinasikan dengan diet terkontrol dan aktivitas fisik sedang, seperti jalan cepat 45 menit.
Stevia adalah pendamping, bukan pengganti gaya hidup sehat.
Ya, aman dan didukung ilmiah untuk penderita diabetes, asalkan produknya murni, dosisnya wajar, dan penggunaannya tetap dalam koordinasi dengan tenaga kesehatan.
Minim efek samping jika tidak berlebihan. Namun, konsumsi terlalu banyak atau produk campuran zat lain kadang memicu perut kembung, diare, atau mual pada orang yang sensitif.
Cek label komposisi. Pilih yang berlabel Ekstrak Stevia Murni dengan kadar Steviol Glikosida/Reb-A >95%. Hindari produk yang dicampur gula alkohol atau filler.
Bisa. Stevia aman dan bermanfaat untuk penderita diabetes tipe 2 asalkan sesuai batas takaran ADI (4 mg/kg berat badan).
Stevia untuk diabetes bukan sekadar mitos, melainkan pilihan pemanis yang didukung bukti ilmiah. Dengan sifat antihiperglikemik-nya, stevia memungkinkan penderita diabetes menikmati rasa manis tanpa memicu lonjakan glukosa darah.
Berbagai studi klinis telah membuktikan keamanannya dalam kontrol gula darah jangka pendek maupun jangka menengah.
Stevia bukan obat dan bukan solusi tunggal. Keberhasilan pengelolaan diabetes tetap bergantung pada pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, manajemen stres, pola tidur yang cukup, serta arahan dari dokter atau ahli gizi.
Gunakan stevia secara bijak, pilih produk murni, dan jadikan ia bagian dari gaya hidup sehat yang berkelanjutan.
Bagi Anda yang sedang mengontrol kadar gula darah sekaligus tetap ingin sesekali melepas rindu dengan makanan atau minuman manis, maupun dessert favorit, Natural Sweeteners – Steviol Brown bisa menjadi salah satu alternatif pengganti gula pasir biasa.
Terbuat dari ekstrak daun stevia alami, pemanis ini hadir dengan cita rasa brown sugar yang khas, nol kalori, dan tanpa tambahan gula atau sugar free.
Tentunya bisa membantu Anda mengontrol lonjakan gula darah.
Disclaimer
Artikel ini hanya untuk tujuan edukasi dan bukan pengganti saran medis. Konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi terdaftar sebelum mengubah pola makan, terutama jika Anda memiliki kondisi kesehatan tertentu atau sedang menjalani program penurunan berat badan.